Karakter Muslimah Sholehah

Oleh : Ali Farkhan Tsani *

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya : “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang ta`at kepada Allah, lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta`atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. An-Nisa / 4 : 34).

Pada ayat tersebut terdapat tiga karakteristik (ciri) utama wanita muslimah dalam pandangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yaitu sebagai berikut :

Pertama : Shalihat (baik)

Yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keikhlasan yang baik hanya mengharap ridha-Nya semata, bukan mengharap sanjungan, perhatian, dan pujian manusia. Serta dalam beribadah selalu mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ibadah berarti penghambaan diri kepada Allah baik berupa ucapan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin.

Jenis ibadah secara umum dibagi menjadi tiga macam ,yaitu :

1) Ibadah Qalbiyah (hati) : seperti ikhlas, tawakkal, sabar, syukur, dll.

2) Ibadah Badaniyah (badan): seperti shalat, shaum, zakat, haji, shadaqah, dll.

3) Ibadah Lisaniyah (lisan): seperti dzikir, membaca Al-Qur’an, berkata yang baik, memberi nasihat, dll.

Kedua : Qhanithat (tha’at, patuh)

Yaitu tha’at, patuh, tunduk, kepada Allah.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيْعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul dan Ulil Amri di antara kamu, maka jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat. Yang demikian itu adalah yang lebih baik dan sebaik baiknya penyelesaian.” (Q.S. An-Nisa / 4 : 59).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

Artinya : “Barangsiapa yang tha’at kepadaku, maka sungguh ia tha’at kepada Allah dan barangsiapa yang memaksiati aku maka sungguh ia telah memaksiati Allah. Barangsiapa yang mentha’ati amirku maka sungguh ia telah mentha’ati aku dan barangsiapa yang memaksiati amirku maka sungguh ia telah memaksiati Aku.” (HR Bukhari dari Abi Hurairah).

Ketiga:  Hafidzat (menjaga)

Yaitu menjaga dan memelihara diri.

Bagi seorang isteri, tha’at kepada suami dan memelihara/menjaga diri ketika suami tidak ada di rumah, merupakan sebuah ibadah yang bernilai pahala.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

إِذَا صَلَّتِ الْـمَرْأَةُ خَـمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَـهَا: ادْخُلِي الْـجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْـجَنَّةِ شِئْتِ

Artinya : “Apabila wanita telah shalat lima waktu, dan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan mentha’ati suaminya, maka dikatakan kepadanya; masuklah ke syurga lewat pintu mana yang disukainya”. (HR.Ahmad dari Abdurrahman bin Auf).

Pada hadits lain disebutkan, : ”Wanita yang paling baik adalah muslimah yang apabila anda melihatnya, kau akan senang, apabila kau menyuruhnya dia akan taat, dan apabila engkau tidak ada di sampingnya, dia akan menjaga dirinya dan hartamu”. (HR Ibnu Jarir).

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kita hidayah dan inayah-Nya kepada kita agar kita bisa menjagi hamba-hamba-Nya yang shalih-shalihat. Amin.

(R1/EO2).

*Ali Farkhan Tsani, Penulis Dai Pesantren Al-Fatah Bogor, Redaktur Mi’raj Islamic News Agency (MINA).

(MINA/BDI)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s