Perempuan dalam Pasungan Sekulerisme


sepatu wanita

Oleh: Choerunnisa Rumaria – Pend Bahasa Inggris UNY,rumarianisa@gmail.com

MENJALANI kehidupan di era saat ini merupakan tantangan besar bagi setiap kaum perempuan. Selain ketiadaan jaminan dari negara, masuknya paham-paham yang bathil secara massive juga merupakan ancaman besar yang kini tengah menggerogoti kaum perempuan. Sekulerisme, contohnya. Paham yang berasas pada pemisahan agama dari kehidupan ini sedikit banyak telah semakin menjauhkan kaum perempuan dari Islam. Inilah yang kemudian membuat perempuan kian terpuruk dan terhina.

Kita dapat mengambil contoh dari maraknya kontes-kones kecantikan yang tak lain hanyalah mengeksploitasi tubuh perempuan. Kecantikan wajah serta keindahan tubuh kaum perempuan digunakan sebagai sumber pendapatan. Hal ini jelas sangat menghinakan kaum perempuan.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pelecehan seksual yang dialami kaum perempuan yang bahkan tak sedikit usianya masih di bawah umur. Hal ini masih diperparah dengan banyaknya TKW yang mendapatkan perlakuan kasar oleh majikan-majikan di Negara tempatnya bekerja. Ada yang memperoleh siksaan, bekerja tanpa dibayar, bahkan dijadikan budak seks oleh majikannya. Buruh-buruh perempuan di Indonesia pun tak kalah menderitanya. Mereka diharuskan bekerja dengan upah yang sangat minim, padahal yang mereka pertaruhkan adalah kewajiban mereka sebagai ibu dan sebagai pengatur rumah tangga.

Dari pemaparan beberapa fakta di atas, tidak mungkin hal-hal mengerikan yang menimpa perempuan tersebut terjadi begitu saja tanpa sebab. Jika dikaji mendalam, semua ini ternyata merupakan dampak dari diambilnya ide-ide bathil yang melawan fitrah perempuan, yakni ide feminis termasuk di dalamnya kesetaraan gender. Ide tersebut berangkat dari paham sekuleris, yakni pemisahan agama dari kehidupan. Dalam paham ini, agama sama sekali tidak memiliki hak untuk mengatur kehidupan manusia.

Agama tidak bisa dijadikan kaca mata untuk memandang aspek-aspek kehidupan. Inilah yang juga merupakan ide dasar dari feminisme. Feminism yang mengusung ide kesetaraan gender telah jelas melawan fitrah perempuan. Persamaan segala aspek antara perempuan dan laki-laki merupaka hal yang bertentangan dengan Islam dan fitrah perempuan. Dalam beberapa hal, Islam membedakan antara laki-laki dan perempuan. Namun, perbedaan ini bukan semata-mata untuk mendiskriminasi perempuan dan membelenggu hak-hak perempuan.

Perbedaan itu disebabkan karena fitrah perempuan itu sendiri pada dasarnya memang berbeda dari laki-laki. Namun dengan adanya ide kesetaraan gender, perempuan dituntut untuk sama dengan laki-laki, termasuk dalam hal bekerja. Hal inilah yang kemudian berdampak pada pengeksploitasian terhadap perempuan. Tugas utama perempuan yang seharusnya menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, kini justru beralih ke dunia kerja seolah karir merupakan segalanya.

Akhirnya, kewajiban menjadi ibu dan pengatur rumah tangga ditinggalkan. Anak-anak menjadi kurang perhatian dan kasih sayang seorang ibu, serta tidak memperolah pedidikan yang cukup dari ibunya. Hal ini yang tidak banyak disadari oleh perempuan. Bahkan, ibu rumah tangga saat ini dianggap sebagai status yang rendah sehingga kaum perempuan saat ini berlomba-lomba berkarir tanpa tahu bahwa dirinya sebetulnya sedang dihinakan dan dieksploitasi oleh para kaum kapitalis. Inilah yang terjadi jika Islam ditingalkan oleh penganutnya.

Perempuan hanya akan memperoleh kemuliaannya jika Islam diterapkan. Hal ini karena Islamlah satu-satunya yang betul-betul sesuai dengan fitrah perempuan dan dengannya, perempuan sangat dimuliakan. Dari segi eonomi, contohnya, dalam Islam perempuan tidaklah memiliki kewajiban menafkahi keluarga. Tugas perempuan dalam Islam ialah sebagai ibu yang mengurus dan mendidik anak-anaknya serta sebagai pengatur rumah tangga.

Dengan demikian, tidak ada yang namanya pengeksploitasian perempuan, yaitu perempuan dijadikan ladang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari mulai kecantikannya, auratnya, bahkan tubuhnya. Dalam hal ini Islam juga sangat menjaga perempuan dengan mewajibkan perempuan untuk menutup auratnya sehingga kehormatannya sangat terjaga, bukan malah diumbar demi mengais rupiah. Kewajiban menafkahi keluarga dibebankan pada laki-laki. Sehingga yang wajib bekerja adalah laki-laki, bukan perempuan. Namun, hal ini tidak berarti perempuan dikekang di dapur dan tidak boleh berkarir. Hukum asal bagi perempuan untuk bekerja adalah mubah. Tidak ada larangan bagi kaum perempuan untuk berprestasi di dunia kerja.

Namun, yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai pekerjaannya di luar rumah tersebut melalaikannya dari tugas utamanya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Dalam hal pendidikan, Islam tidak melarang kaum perempuan untuk memperoleh pendidikan tinggi. Islam justru mewajibkan ummatnya, baik laki-laki maupun perempuan untuk senantiasa menuntut ilmu sepanjang hayatnya. Hal ini merupakan bukti bahwa Islam juga meninggikan derajat perempuan dengan ilmu-ilmunya. Selain itu, dalam hal politik, Islam memang tidak membolehkan perempuan untuk menjadi pemimpin dalam pemerintahan. Namun, perempuan diperbolehkan untuk menjadi qadhi. Dalam hal kesehatan, perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki.

Dengan demikian, permasalahan yang saat ini menimpa kaum perempuan tidak lain karena penerapan system yang sekuler. Hal ini hanya bias diatasi jika semua pengurusan ini dikembalikan lagi kepada Islam yang menjamin kesejahteraan perempuan dan menjamin kemaslahatan bagi seluruh kalangan. []
(islampos)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s